Rabu, 24 Juni 2020

Maaf atas Luka yang Kemarin



Maaf atas semua kata yang pernah tertuai dari lisan ini
Aku makhluk yang kerap menuai ikatan pada banyak sisi
Ternyata mudah saja hati ini berubah menjadi hal yang awalnya tak tergapai akal
.

Namun bukannya mengelak darisalah,
Ya memang beginilah.
Kenapa penetapan yang lalu dipercaya terlalu? Terhadap sosok jiwa yang gampang saja ingkar akan hal itu?
Yang tertuai dari lisan manusia yang gemar berbuat, tak seirama dengan kata
.
                         
Saat ini aku hendak melepas segala yang berbentuk pengharapan yang aku tuai kepada banyak pasang mata
Bahwa dasarnya aku hanya lah sosok penuai salah yang tak ada habisnya
Tak bisa lagi aku terus menerus menjalankan apa yang tak seiras dengan kata hati ini
Terlebih mengorbankan jiwa yang terkasih yang siap berada disisi kanan dan kiriku setiap waktu 
Aku tak bisa mendusta lagi pada mereka, sudah cukup!
.
                    
Sekarang aku berhak memilih atas apa yang aku anggap pantas!
Aku hendak menikmati cinta dari Sang Maha Segala, seutuhnya!
Tanpa menodai dengan membagi penikmatan ini dengan manusia yang sama saja fikirannya, yang tak ada habisnya tentang yang fana.
Aku sedang ingin menelusuri cinta dari Sang Maha Cinta
Yang mana bahkan yang tak mengimani nya saja tetap dikasihi nya dengan diberi makan dan kebahagiaan
.
                
Lalu mesti apa lagi sekarang? Selain menjalani kewajiban dengan tulus serta meraih cita dan angan yang terkasih
Terlebih pergi ketempat impian dengan niat baik untuk tak lepas membersamai juang.
Memenangkan jalan ini!
Tak apa sendiri, 
Namun tak kan mungkin perjuangan dijalan nan terjal ini dibiarkan sendiri terlebih oleh mereka yang memiliki cinta yang sama


Oleh: @_sssahiralbs

Rabu, 17 Juni 2020

Lahirnya Pewarta Rasa




Dia yang dulunya tak terbiasa memakai kaus kaki, sekarang menjadi sosok yang kalang kabut saat kaus kakinya hilang






Hai sahabat pewarta? sudah lama rasaanya kita saling berbagi cerita. Namun, aku belum juga memperkenalkan diri sebagai bentuk cinta atas si penulis dan pembaca, agar lebih terasa dan sampai apa-apa yang menjadi bahan perbincangan di blog amatiran Pewarta Rasa ini. 

Aku ialah wanita yang kini berusia kepala dua lebih satu bulan, Aku layaknya seorang manusia yang suka mengarang tulisan terlebih dengan sastra. Seno Gumira Atmaja dan W.S Rendra merupapakan sosok yang aku kagumi tulisannya. Fiersa Besari menjadi sosok unggul tulisan yang kerap aku baca saat ini. Awalnya aku hanyalah Wanita biasa, yang tak terlalu berfikir perihal hukum islam ataupun apa. Aku pernah menjalani apa-apa yang pernah dilakukan kaum awam no religius lainnya, bermain berkumpul membaur dengan semua orang baik pria sekalipun, beribadah hanya sekedarnya sahaja. Membaca alqur'an pun ialah hal langka. Namun rasanya lebih baik sekarang. aku terjebak berada di titik antar orang-orang baik. Bersyukur sekali rasanya.

Bukan membuat pernyataan perihal aku bukan lagi sosok orang awam, apalagi menjustifikasi sebagai sosok yang religius dan taat. Namun, pekara pembelajaran itu selalu ada. Aku sedang belajar menjadi sosok yang baik, jauh dari kata lalai terlebih nakal. Ya belajar saja, siapa tahu bisa. 

Baiklah, akan aku jelaskan. Mungkin ditiap lembaran tulisan yang akan aku bagikan di beranda ini akan berupa tulisan Prosa, sesekali puisi dan kadang juga akan berbagi cerita. Harapannya, semoga untu para pembaca pewarta ras membaca dengan penuh kebahagiaan, tanpa terpaksa. Baiklah! Aku akhiri, terima kasih

Pengap!

Bukan hanya karena tak berjendela, Ketika hadir suara nyaring tak berisi pun  Bisa mendapati rasa yang sama Jika sesak  sebab tak berjendela...